Filsafat Psikologi
Halo Sahabat Iseng, semoga kabar kalian baik baik saja meski berada didalam rumah jangan lupa untuk menjaga tubuh dan menjaga lingkungan sekitar iya. Untuk kali saya akan memberikan informasi tentang Pengertian dari Filsafat. Untuk mempersingkat waktu langsung saja guys.
A.Pengertian Filsafat
Filsafat berasal dari bahasa Yunani, philosophia merupakan kata majemuk yang terdiri dari kata philo dan sophia.Philo artinya cinta dan Sophia artinya Pengetahuan. Jadi kata philosophia dapat diartikan Pecinta Pengetahuan.
a.PENGERTIAN FILSAFAT MENURUT PARA AHLI :
1.Poedjawijatna (1974:11) mendefinisikan filsafat sebagai sejenis pengetahuan yang berusaha mencari sebab sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan pikiran belaka.
2.Hasbullah Bakrie (1971:11) mengatakan bahwa filsafat adalah sejenis pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta, dan manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dicapai akal manusia dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu.
3.Plato menyatakan bahwa filsafat ialah pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran asli.
4.Aristoteles, filsafat adalah pengetahuan yang tergabung di dalamnya metafisika, logika, retorika, ekonomi, politik, dan estetika.
5.Hamersma 1981:10 mengatakan bahwa Filsafat merupakan pengetahuan metodis,sistematis, dan koheren tentang seluruh kenyataan. Jadi, dari definisi ini nampak bahwa kajian filsafat itu sendiri adalah realitas hidup manusia yang dijelaskan secara ilmiah guna memperoleh pemaknaan menuju “hakikat kebenaran”.
6.Al-Kindi (801 - 873 M) : "Kegiatan manusia yang bertingkat tertinggi adalah filsafat yang merupakan pengetahuan benar mengenai hakikat segala yang ada sejauh mungkin bagi manusia. Bagian filsafat yang paling mulia adalah filsafat pertama, yaitu pengetahuan kebenaran pertama yang merupakan sebab dari segala kebenaran".
7.Al Farabi (870 - 950 M), filsafat adalah pengetahuan tentang alam wujud bagaimana hakikatnya yang sebenarnya.
Karl Popper (1902-?) menulis "semua orang adalah filsuf, karena semua mempunyai salah satu sikap terhadap hidup dan kematian.
b.Abstraksi Filsafat
Menurut Aristoteles (384-322 sM), pemikiran kita melewati 3 jenis abstraksi (abstrahere = menjauhkan diri dari, mengambil dari). Tiap jenis abstraksi melahirkan satu jenis ilmu pengetahuan dalam bangunan pengetahuan yang pada waktu itu disebut filsafat.
1.Asas abstraksi pertama - fisika.
Kita mulai berfikir kalau kita mengamati. Dalam berfikir, akal dan budi kita “melepaskan diri” dari pengamatan inderawi segi-segi tertentu, yaitu “materi yang dapat dirasakan” (“hyle aistete”). Dari hal-hal yang partikular dan nyata, ditarik dari padanya hal-hal yang bersifat umum: itulah proses abstraksi dari ciri-ciri individual. Akal budi manusia, bersama materi yang “abstrak” itu, menghasilan ilmu pengetahuan yang disebut “fisika” (“physos” = alam).
2.Asas abstraksi kedua - matesis.
Dalam proses abstraksi selanjutnya,kita dapat melepaskan diri dari materi yang kelihatan. Itu terjadi kalau akal budi melepaskan dari materi hanya segi yang dapat dimengerti (“hyle noete”).Ilmu pengetahuan yang dihasilkan oleh jenis abstraksi dari semua ciri material ini disebut “matesis” (“matematika” – mathesis = pengetahuan,ilmu).
3.Asas abstraksi ketiga - teologi atau “filsafat pertama”.
Kita dapat meng-"abstrahere" dari semua materi dan berfikir tentang seluruh kenyataan,tentang asal dan tujuannya, tentang asas pembentukannya, dsb. Asas fisikadan Asas matematika jelas telah kita tinggalkan. Pemikiran pada Asas ini
menghasilkan ilmu pengetahuan yang oleh Aristoteles disebut teologi atau
“filsafat pertama”. Akan tetapi karena ilmu pengetahuan ini “datang sesudah”
fisika, maka dalam tradisi selanjutnya disebut metafisika.
c. Klasifikasi Pengertian Filsafat
Klasifikasi Pengertian Tentang Filsafat
Titus et.al (dalam Muntasyir dan Munir, 2002:3) memberikan klasifikasi pengertian tentang filsafat, sebagai berikut :
1. Filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasanya diterima secara tidak kritis (arti informal).
2. Filsafat adalah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang sangat kita junjung tinggi (arti formal).
3. Filsafat adalah usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan. Artinya filsafat berusaha untuk mengombinasikan hasil bermacam-macam sains dan pengalaman kemanusiaan sehingga menjadi pandangan yang konsisten tentang alam
(arti spekulatif).
4. Filsafat adalah analisis logis dari bahasa serta penjelasan tentang arti kata dan konsep. Corak filsafat yang demikian ini dinamakan juga logosentris.
5. Filsafat adalah sekumpulan problema yang langsung, yang mendapat perhatian dari manusia dan yang dicarikan jawabannya oleh ahli-ahli filsafat.
B. Objek Studi Filsafat
1. Objek Material ini banyak yang sama dengan objek material sains. Pertama, sains menyelidiki objek material yang empiris, filsafat menyelidiki objek itu juga tetapi bukan bagian yang empiris, melainkan bagian yang abstrak. Kedua, ada objek material filsafat yang memang tidak dapat diteliti oleh sains, seperti Tuhan, hari akhir, yakni objek material yang selama-lamanya tidak empiris.
2. Objek Formal ialah penyelidikan yang mendalam. Artinya, ingin tahunya filsafat adalah ingin tahu bagian dalamnya. Kata mendalam artinya ingin tahu tentang objek material yag tidak empiris.
C. Yang Mendorong Timbulnya Filsafat
1. Beerling (1966:8) mengatakan bahwa orang Yunani yang mula-mula sekali berfilsafat di Barat mengatakan bahwa filsafat timbul karena ketakjuban. Ketakjuban menyaksikan keindahan dan kerahasiaan alam semesta ini lantas menimbulkan keinginan untuk mengetahuinya.
2.Plato mengatakan bahwa filsafat itu dimulai dari ketakjuban. Sikap heran atau takjub itu akan lahir dalam bentuk bertanya. Pertanyaan itu memerlukan jawaban. Bila pemikir menemukan jawaban, jawaban itu dipertanyakan lagi karena ia selalu sangsi pada kebenaran yang ditemukannya.
3.Patrick (Mulder, 1966:44-5) mengatakan, manakala keheranan menjadi serius dan penyelidikan menjadi sistematis, mereka menjadi filosof.
D. Manfaat Studi Filsafat
Dalam kehidupan sehari-hari banyak manfaat yang bisa dipetik dalam mempelajari filsafat, antara lain :
1. Filsafat akan mengajarkan untuk melihat segala sesuatu secara multi dimensi.
2. Filsafat mengajarkan kepada kita untuk mengerti tentang diri sendiri dan dunia.
3. Mengasah hati dan pikiran untuk lebih kritis terhadap fenomena yang berkembang.
4. Filsafat dapat mengasah kemampuan kita dalam melakukan penalaran.
5. Belajar dari para filsuf lewat karya-karya besar mereka.
6. Filsafat akan membuka cakrawala berpikir yang baru.
7. Filsafat membantu kita untuk dapat berpikir dengan lebih rasional.
8. Filsafat akan mengkondisikan akal untuk berpikir secara radikal.
E. Cara Mempelajari Filsafat
1. Metode sistematis Menggunakan metode sistematis berarti kita menghadapi karya filsafat. Misalnya mula-mula kita mengahadapi teori pengetahuan yang terdiri atas beberapa cabang filsafat. Setelah itu kita mempelajari teori hakikat yang merupakan cabang lain. Kemudian kita mempelajari teori nilai atau filsafat nilai. Pembagian besar ini dibagi lebih khusus dalam sistematika filsafat. Tatkala membahas setiap cabang atau subcabang itu, aliran-aliran akan terbahas. Dengan belajar filsafat melalui metode ini perhatian kita terpusat pada isi filsafat bukan pada tokoh ataupun pada periode.
2. Metode historis Metode historis digunakan apabila kita mempelajari filsafat dengan cara mengikuti sejarahnya, jadi sejarah pemikiran. Ini dapat dilakukan dengan membicarakan tokoh demi tokoh menurut kedudukannya dalam sejarah. Dalam menggunakan metode historis dapat pula kita menempuh cara lain, yaitu dengan cara membagi babakan sejarah filsafat. Misalnya, mula-mula kita pelajari filsafat kuno, lalu filsafat abad pertengahan, kemudian filsafat abad modern. Variasi cara mempelajari filafat dengan metode historis cukup banyak. Yang pasti dengan mempelajari filsafat menggunakan metode historis berarti mempelajari filsafat secara kronologis. Metode ini cocok untuk pelajar pemula.
3. Metode kritis Metode kritis digunakan oleh mereka yang mempelajari filsafat tingkat intensif. Pelajar haruslah sedikit banyak telah memiliki pengetahuan filsafat. Pelajaran filsafat pada tingkat sekolah pascasarjana sebaiknya menggunakan metode ini. Disini pengajaran filsafat dapat mengambil pendekatan sistematis maupun historis. Langkah pertama ialah memahami isi ajaran, kemudian kita mencoba mengajukan kritiknya. Kritik itu mungkin dalam bentuk menentang, dapat juga berupa dukungan terhadap ajaran filsafat yang sedang kita pelajari. Kita mengkritik mungkin dengan menggunakan pendapat sendiri ataupun dengan menggunakan pendapat filosof lain. Jadi, jelas pengetahuan ala kadarnya, tatkala memulai pelajaran, amat diperlukan dalam belajar filsafat dengan metode ini.
F. Ciri-Ciri Berpikir dalam Filsafat
Dalam memahami suatu permasalahan, ada perbedaan tentang karakteristik dalam berfikir antara filsafat dengan ilmu-ilmu lain. Mudhofir dalam Muntasyir & Munir (2002: 4-5) mengatakan bahwa ciri-ciri berfikir kefilsafatan sebagai berikut :
1. Radikal, artinya berpikir sampai ke akar-akarnya, hingga sampai pada hakikat atau substansi yang dipikirkan.
2. Universal, artinya pemikiran filsafat menyangkut pengalaman umum manusia. Kekhususan berpikir kefilsafatan menurut Jespers terletak pada aspek keumumannya.
3. Konseptual, artinya merupakan hasil generalisasi dan abstraksi pengalaman manusia. Misalnya : Apakah Kebebasan itu ?
4. Koheren atau konsisten (runtut). Koheren artinya sesuai dengan kaidahkaidah berpikir logis. Konsisten artinya tidak mengandung kontradiksi.
5. Sistematik, artinya pendapat yang merupakan uraian kefilsafatan itu harus saling berhubungan secara teratur dan terkandung adanya maksud atau tujuan tertentu.
6. Komprehensif, artinya mencakup atau menyeluruh. Berpikir secara kefilsafatan merupakan usaha untuk menjelaskan alam semesta secara keseluruhan.
7. Bebas, artinya sampai batas-batas yang luas, pemikiran filsafati boleh dikatakan merupakan hasil pemikiran yang bebas, yakni bebas dari prasangka-prasangka sosial, historis, kultural, bahkan religius.
8. Bertanggungjawab, artinya seseorang yang berfilsafat adalah orang-orang yang berpikir sekaligus bertanggungjawab terhadap hasil pemikirannya, paling tidak terhadap hati nuraninya sendiri.
Sekian dari yang bisa kami sampaikan semoga artikel ini bisa bermanfaat untuk kami pribadi dan buat kalian semuanya iya. Wassalamu'alaikum Wr.Wb
Komentar
Posting Komentar