Pengertian Tes Psikologi

Assalamualaikum sahabat iseng dimana pun kalian berada apa kabarnya sahabat aku berharap kabar kalian baik baik saja iya, mohon maaf lama tidak memberikan informasi tentang blog saya maklum di dunia nyata banyak aktivitas yang tidak bisa di ganggu hehehe....

Untuk kali ini saya akan membahas tentang pengertian tes psikologi,sejarah dan macam macam test psikologi.untuk mempersingkat waktu langsung saja ke tkp ....





A.Pengertian Test Psikologi

    Tes Psikologi  menurut  ANASTASI, merupakan salah satu dari metode psikodiagnostik. Sedangkan Psikodiagnostik merupakan terjemahan dari istilah Psichodiagnosis dalam bahasa Inggris yang dimunculkan pertama kali oleh Herman Rorschach pada tahun 1921. Menurut CHAPLIN pengertian Psikodiagnostik adalah sebarang teknik untuk mempelajari kepribadian, bertujuan untuk menentukan sifat-sifat yang mendasarinya, khususnya sifat yang menen tukan kecenderungan seseorang pada penyakit mental.
    Psikodiagnostik adalah teknik-teknik untuk melakukan pemeriksaan psikologis guna menemukan sifat-sifat yang mendasari kepribadian tertentu, terutama yang mengarah pada kelainan-kelainan tertentu. Misalnya, rasa cemas, takut (pobia), apatis, agresif dan se ba gainya ( Ki Fudyartanta, 2004). Sedangkan menurut JAMES DREVER adalah “ The attempt to assess personal characteristics thtough of the observation of external features, as in physiognomy, craniologi, gravanologi, study of voice, gait, etc “Dalam kamus lengkap psikologi ditulis, Psichodiagnosis (psikogiagnosa), adalah sebarang teknik unt uk mempelajari kepribadian, bertujuan untuk menentukan sifat-sifat yang mendasarinya, khususnya sifat yang menentukan kecend erungan seseorang pada penyakit mental.
Pengertian tes menurut Suryabrata (1993) adalah pertanyaanpertanyaan yang harus dijawab dan atau perintah-perintah yang harus dijalankan yang berdasar atas bagaimana testee menjawab. Anastasi (1988) mengemukakan bahwa esensi dari tes merupakan penentuan yang obyektif dan distandardisasikan terhadap sample tingkah laku.

B. Sejarah singkat tentang Test Psikologi

Pada abad ke-19 mulai bangkitnya minat pada pengobatan yang lebih manusiawi terhadap orang-orang gila dan mereka yang mentalitasnya terbelakang, padahal sebelum ini orang-orang tersebut diabaikan, dicemooh bahkan disiksa. Dengan munculnya kepedulian akan perawatan yang lebih layak bagi orang-orang yang punya masalah mental, semakin disadari perlunya kriteria untuk me ngidentifi kasi dan mengklasifi kasi kasus-kasus tersebut.

Pendirian banyak lembaga sosial untuk perawatan orang-orang bermentalitas terbelakang baik di Eropa maupun Amerika Serikat menimbulkan kebutuhan untuk menetapkan standar-standar penerimaan dan sistem klasifi kasi yang obyektif. Perlunya membedakan antara orang gila dan orang bermentalitas terbelakang. Orang gila menampilkan gangguan-gangguan emosional yang bisa ya atau bisa tidak disertai oleh penurunan daya intelektual dari tingkat semula normal; orang bermentalitas terbelakang pada dasarnya ditandai oleh adanya kerusakan intelektual sejak lahir atau semasa kecil. Menurut Esquirol seorang dokter Prancis menyimpulkan bahwa penggunaan bahasa seseorang  merupakan kriteria yang paling dapat diandalkan untuk melihat tingkat intelektualnya.
Sumbangan yang sangat penting dalam hal ini diberikan oleh seorang dokter Perancis yang bernama Seguin yang merintis pe latihan orang-orang dengan keterbelakangan mental. Seguin (1866/ 1907) melakukan eksperimen bertahun-tahun dengan metode pelatihan fi siologis, pada tahun 1837 dia mendirikan sekolah pertama pen didikan anak-anak dengan keterbelakangan mental. Pada tahun 1848 dia beremigrasi ke Amerika Serikat dan gagasannya diterima orang. Banyak teknik pelatihan panca indera dan otot yang selanjut nya diterapkan dalam lembaga-lembaga untuk orang-orang de- ngan keterbelakangan mental. Dengan metode-metode ini anakanak dengan keterbelakangan mental diberi latihan intensif dalam pembedaan inderawi dan dalam pengembangan kendali motorik. Sejumlah cara yang dikembangkan oleh Seguin pada akhirnya dimasukkan ke dalam tes-tes inteligensi nonverbal atau tes inteligensi tentang kinerja seseorang.
Lebih dari setengah abad setelah karya Esquirol dan Seguin, Psikolog Perancis Alfred Binet mendesak agar anak-anak yang gagal untuk memberikan respon pada sekolah yang normal diperiksa sebelum pulang sekolah dan jika dianggap bisa dididik anak-anak itu ditempatkan pada kelas khusus.
Psikolog-psikolog eksperimental awal dari abad ke 19 pada umumnya tidak perduli dengan pengukuran perbedaan individual. Tujuan utama psikolog pada masa itu adalah perumusan deskripsi umum tentang perilaku manusia. Yang lebih merupakan fokus perhatian mereka adalah keseragaman, bukannya perbedaan-perbedaan dalam perilaku. Perbedaan-perbedaan individual diabaikan atau diterima sebagai sesuatu yang pasti buruk, yang membatasi penerapan generalisasi. Jadi, fakta bahwa seseorang bereaksi sec ara berbeda satu dari yang lain ketika diamati dalam kondisi serupa, dianggap sebagai suatu bentuk kesalahan. Inilah sikap terh adap perbedaan-perbedaan individual yang dominan dalam lab oratorium seperti yang didirikan oleh Wundt di Leipzig pada tahun 1879 tempat banyak psikolog eksperimental menjalani pendidikan mereka.
Dalam pilihan topik mereka, sebagaimana dalam banyak fase lain dari karya mereka, para pendiri psikologi eksperimental mencerminkan pengaruh dari latar belakang mereka dalam bidang fi siologi dan fi sika. Masalah-masalah yang ditelaah dalam laboratorium mereka pada umumnya menyangkut kepekaan pada stimuli visual, pendengaran dan indera-indera lainnya dan menyangkut waktu reaksi.
Masih ada cara lain yang ditempuh psikologi eksperimental abad ke 19 untuk mempengaruhi jalannya gerakan testing. Eksperimen-eksperimen psikologis awal menunjukkan kebutuhan akan kendali yang ketat atas kondisi observasi. Contohnya, pemakaian kata-kata dalam petunjuk yang diberikan kepada peserta dalam eksperimen waktu reaksi bisa cukup meningkatkan atau menurunkan kecepatan respon peserta. Atau juga kecerahan atau warna dari lingkungan sekeliling bisa benar-benar mengubah tampilan stimulus visual. Dengan begitu, pentingnya membuat observasi terhadap semua peserta eksperimental di bawah kondisi-kondisi standar ditunjukkan dengan jelas. Standardisasi prosedur seperti ini pada akhir nya menjadi salah satu dari ciri-ciri khusus tes psikologi.
Biolog Inggris, Francis Galton adalah orang yang bertanggung jawab atas peluncuran gerakan testing. Faktor pemersatu dalam ber bagai aktivitas penelitian Galton adalah minatnya pada hereditas manusia. Galton menyadari kebutuhan pengukuran ciriciri dari orang yang masih punya hubungan keluarga dan yang tidak punya hubungan keluarga. Galton menulis ”Satu-satunya informasi yang sampai pada kita sehubungan dengan peristiwaperistiwa eksternal nampaknya melewati jalan indera kita; dan semakin perspektif indera itu akan perbedaan, semakin besarlah bidang yang menjadi terapan penilaian dan inteligensi kita”. Galton juga mencatat bahwa orang-orang dengan keterbelakangan mental  ekstrem cenderung defectif dalam kemampuan membedakan antara panas, dingin, dan rasa sakit, sebuah observasi yang lebih jauh memperkuat keyakinannya bahwa kapasitas diskriminatif inderawi secara utuh akan merupakan yang tertinggi di antara orang-orang yang paling mampu secara intelektual.
Galton juga merintis penerapan metode skala peringkat dan kuesioner dan juga penggunaan teknik asosiasi bebas yang selanjut nya diterapkan dalam pengembangan metode statistiknya untuk analisis data tentang perbedaan-perbedaan individual. Galton menyeleksi dan mengadaptasi sejumlah teknik yang sebelumnya diturunkan oleh para matematikawan. Teknik-teknik ini ia sesuaikan ke bentuk tertentu sedemikian rupa sehingga bisa digunakan oleh penyelidik yang tidak terlatih secara matematis, yang mungk in ingin memperlakukan hasil-hasil tes secara kuantitatif. Dengan cara lain, dari memperluas aplikasi prosedur statistik sampai pada analisis data tes. Fase pekerjaan Galton ini telah dijalankan oleh banyak mahasiswanya, diantaranya yang paling menonjol adalah Karl Pearson.
James McKeen Cattel, seorang Psikolog Amerika menduduki tempat penting dalam perkembangan testing psikologis. Karya Cattel mempertemukan ilmu psikologi eksperimental yang baru didirikan dan gerakan testing yang lebih baru. Untuk meraih doktornya di Leipzig ia menyelesaikan disertasi tentang waktu reaksi di bawah pengarahan Wundt. Sementara memberikan kuliah di Cambridge pada tahun 1888, minat Cattel dalam pengukuran perbedaan individual dikuatkan lagi lewat kontaknya dengan Galton. Sekembalinya ke Amerika Cattel aktif baik dalam pendirian laboratorium psikologi eksperimental dan dalam penyebaran gerakan testing.
Dalam sebuah artikel  yang ditulis Cattel pada tahun 1890 isti lah tes mental digunakan untuk pertama kalinya dalam lite rary psikologi. Artikel ini memaparkan rangkaian tes yang diselenggarakan tiap tahun bagi para mahasiswa dalam upaya menentukan tingkat intelektual. Tes-tes ini yang diselenggarakan secara individual meliputi ukuran-ukuran kekuatan otot, kecepatan gerakan, sensitivitas pada rasa sakit, ketajaman penglihatan dan pendengaran, pembedaan berat, waktu reaksi, ingatan dan sebagainya. Dalam pilihan tes-tesnya, Cattel punya pandangan sama dengan Galton bahwa ukuran fungsi intelektual bisa diperoleh melalui tes-tes pembedaan inderawi dan waktu reaksi.
Sejumlah rangkaian tes yang disusun oleh psikolog Amerika pada masa itu cenderung meliputi fungsi-fungsi yang agak kompleks. Kraepelin yang terutama berminat pada pemeriksaan klinis atas pasien-pasien psikiatris, mempersiapkan serangkaian panjang tes-tes untuk mengukur apa yang dianggap sebagai faktor-faktor mendasar dalam karakterisasi seorang individu. Tes-tes ini yang cuma memanfaatkan operasi-operasi aritmetika sederhana, dirancang untuk mengukur efek-efek praktik, memori dan kerentanan terhadap kelelahan dan gangguan. Psikolog Jerman lainnya, Ebbinghaus menyelenggarakan tes-tes komputasi aritmetik, rentang memori, dan melengkapi kalimat, merupakan satu-satun ya tes yang menunjukkan hubungan yang jelas dengan prestasi skolastik anak-anak.
Dalam sebuah artikel yang diterbitkan di Perancis pada tahun 1895 Binet dan Henri mengkritik sebagian  besar rangkaian tes karena terlalu inderawi dan terlalu berkonsentrasi pada kemampuan-kemam puan yang sederhana dan terspesialisasi. Sebuah daftar tes yang ekstensif dan bervariasi diusulkan meliputi fungsi-fungsi se- perti memory, imajinasi, perhatian, pemahaman, sugestibilitas. Dalam tes-tes ini kita bisa mengenali tren yang akhirnya mengarah pada pengembangan skala inteligensi Binet. Binet dan teman-temannya mencurahkan waktu bertahun-tahun untuk penelitian aktif dan sederhana tentang cara-cara pengukuran inteligensi. Ba nyak pendekatan telah dicoba bahkan mencakup pengukuran bentuk tengkorak, muka dan tangan dan analisis atas tulisan tangan. Te ta pi hasil-hasilnya menimbulkan keyakinan makin besar bahwa pengukuran yang langsung atas fungsi-fungsi inteletual yang kompleks membawa harapan yang sangat besar.
Pada tahun 1904 Menteri Pengajaran Umum Perancis menugaskan Binet pada komisi guna mempelajari prosedur-prosedur un tuk pendidikan anak-anak yang terbelakang. Dalam kaitan sasaran-sasaran komisi inilah Binet dalam kerjasama dengan Simon menyiapkan Skala Binet Simon yang pertama. Skala ini yang terkenal sebagai skala 1905 terdiri dari 30 masalah atau tes yang diatur dalam urutan tingkat kesulitan yang makin tinggi. Tingkat kesulitan ditentukan secara empiris dengan menyelenggarakan tes pada 50 anak normal berusia 3 sampai 11 tahun dan pada sejumlah anak bermental terbelakang dan orang dewasa. Skala 1905 disajikan sebagai instrumen permulaan dan tak satupun metode obyektif yang tepat  untuk sampai pada skor total yang dirumuskan.
Pada skala kedua atau skala 1908 jumlah tes ditingkatkan dan semua tes dikelompokkan ke dalam tingkatan umur atas dasar kinerja dari 300 anak normal berusia antara 3 – 13 tahun. Revi si ketiga atas skala Binet Simon muncul pada tahun 1991, tahun meninggalnya Binet pada usia yang masih muda. Sebelum revisi 1908 tes-tes Binet menarik perhatian luas para psikolog di seluruh dunia. Terjemahan dan adaptasi muncul di banyak negara termasuk di Amerika Serikat. Yang pertama dilakukan oleh H. H. Goddard kemudian oleh psikolog riset di Vineland Training School (untuk anak-anak bermental terbelakang). Revisi Goddard sangat berpengaruh dalam penerimaan testing inteligensi di kalangan profesi medis. Revisi ini segera didahului oleh instrumen Stanford Binet yang lebih baik secara psikometris yang dikembangkan oleh L. M. Terman dan kolega-koleganya di Universitas Stanford. Dalam tes inilah IQ pertama kali digunakan. Yang menarik juga adalah revisi Kuhlmann-Binet yang memperluas skala sampai pada usia tiga bulan. Skala ini merupakan salah satu usaha awal untuk mengembangkan tes inteligensi prasekolah dan anak-anak.      
Tes-tes Binet seperti halnya semua revisinya juga adalah skala individual. Artinya tes-tes ini bisa diadakan hanya untuk satu orang. Banyak tes dalam skala ini membutuhkan respon lisan dari peserta tes atau membutuhkan manipulasi materi. Sejumlah tes menuntut pengukuran waktu respon individu. Karena alasan ini dan alasan lainnya, tes-tes seperti ini tidak diadaptasikan untuk tes kelompok. Ciri khas lain dari tipe tes Binet ini adalah bahwa tes ini membutuhkan seorang penguji tes yang amat terlatih. Tes-tes seperti ini pada dasarnya adalah instrumen-instrumen klinis yang sesuai untuk telaah intensif atas kasus-kasus individual.
Testing kelompok seperti skala Binet pertama dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan praktis. Ketika Amerika Serikat memasuki Perang Dunia I pada tahun 1917, sebuah komisi ditunjuk oleh American Psychological Assosiation untuk menemukan bagaimana caranya psikologi bisa membantu dalam perang itu. Komisi ini di bawah pengarahan dari Robert M. Yerkes, mengakui perlunya klasifi kasi kilat atas satu setengah juta orang yang direkrut. Klasifi kasi itu dilakukan dalam hubungan dengan tingkat intelektual umum mereka. Informasi seperti itu relevan bagi banyak keputusan administratif, termasuk penolakan atau pengeluaran seseorang dari dinas militer, penempatan orang pada berbagai macam dinas, atau penerimaan seseorang ke dalam kamp pelatihan perwira. Dalam konteks inilah tes intelegensi kelompok pertama kali dibuat. Dalam tugas ini psikolog angkatan darat mengambil semua materi tes yang tersedia, dan terutama tes intelegensi kelompok yang belum dipublikasikan, yang disiapkan dan diberikan kepada angkatan darat oleh Arthur S. Otis. Sumbangan utama tes Otis yang dirancang saat menjadi mahasiswa dalam salah satu kuliah pascasarjana Terman, adalah perkenalan dengan pilihan ganda dan jenis-jenis soal obyektif lainnya.
Tes-tes yang pada akhirnya dikembangkan oleh psikolog angkatan darat dikenal dengan nama Army Alpha dan Army Beta. Army Alpha dirancang untuk testing rutin umum, sedang Army Beta adalah skala non bahasa yang diterapkan pada orang-orang buta huruf dan pada orang-orang asing yang direkrut yang tidak bisa menjalani tes dalam bahasa inggris. Kedua tes ini sesuai untuk penyelenggaraan tes bagi kelompok besar. Tak lama sesudah akhir Perang Dunia I, tes-tes angkatan darat disebarkan untuk peng gunaan sipil. Kedua tes ini tidak hanya mengalami banyak rev isi melainkan juga menjadi model bagi sebagian besar tes inteligensi kelompok.
Sebelum Perang Dunia I para psikolog telah mulai mengakui perlunya tes bakat khusus untuk melengkapi tes-tes inteligensi global. Tes-tes bakat khusus ini dikembangkan secara khusus untuk digunakan dalam konseling pekerjaan dan dalam seleksi dan klasifi kasi personil industri dan militer. Di antara tes-tes yang digunakan paling luas adalah tes-tes bakat mekanikal, klerikal, musikal dan artistik.
Sementara para psikolog sibuk mengembangkan tes-tes inteligensi dan bakat, ujian sekolah tradisional mengalami sejumlah perubahan teknis. Satu langkah penting ke arah ini diambil oleh sekolah-sekolah negeri Boston pada tahun 1845 ketika ujian tertulis digantikan dengan interogasi lisan pada para siswa oleh para penguji yang datang ke sekolah-sekolah itu. Argumen-argumen yang ditawarkan pada waktu itu untuk mendukung inovasi ini antara lain adalah bahwa ujian-ujian  tertulis menempatkan semua siswa dalam situasi seragam, memungkinkan suatu cakupan yang lebih luas, mengurangi unsur peluang dalam pilihan pertanyaan dan menyingkirkan kemungkinan favoritisme pada pihak penguji. Semua argumen ini memiliki lingkaran yang terdengar akrab di telinga kita, argumen-argumen ini banyak digunakan kemudian hari mem benarkan penggantian pertanyaan-pertanyaan esai dengan soalsoal pilihan berganda yang obyektif.
Setelah peralihan abad tersebut tes standar pertama untuk mengukur hasil pengajaran sekolah mulai muncul. Dipelopori oleh karya E. L. Thorndike, tes-tes ini memakai prinsip-prinsip pengukuran yang dikembangkan dalam laboratorium psikologis. Contoh-contoh mencakup skala untuk penentuan peringkat kualitas tulisan tangan dan karangan tertulis, dan juga tes dalam pengejaan, perhitungan aritmetik, dan penalaran aritmatik. Baru kemudian datanglah ba terai prestasi yang diprakarsai oleh publikasi edisi pertama Stanford Achievement Test pada tahun 1923. para penyusunnya adalah tiga pelopor  awal dari perkembangan tes: Truman L. Kelley, Giles M.
Ruch dan Lewis M. Terman.
Bidang lain testing psikologis yang berhubungan dengan aspek-aspek afektif atau non intelektual, tes yang dirancang pada umumnya dikenal sebagai tes kepribadian. Perintis awal testing kepribadian di ilustrasikan oleh penggunaan Kraepelin atas tes asosiasi bebas dengan pasien-pasien psikiatris. Dalam tes ini peserta ujian diberi kata-kata stimulus yang dipilih secara khusus dan mereka diminta memberikan respon pada setiap kata dengan kata pertama yang muncul dalam benak mereka. Kraepelin juga mengg unakan teknik ini untuk mempelajari efek-efek psikologis dari keletihan, lapar dan obat bius.


C.Macam-Macam Test Psikologi 
Test Psikologi terdapat banyak klasifikasi nya berikut adalah pengertian di bawah ini :

A.  Klasifikasi Tes Psikologi

    Tes psikologi sangat banyak ragamnya dan sangat luas skornya, sehingga untuk mendapatkan orientasi yang baik mengenai tes tersebut perlu dilakukan klasifikasi. Klasifikasi yang banyak digunakan yaitu :
a.   Berdasarkan atas banyaknya tes, dibedakan menjadi;
(a.Tes individual (individual test), maksudnya adalah pada suatu waktu tertentu tester hanya menghadapi satu testee, contohnya tes kepribadian Rorschach, TAT (Thematic Ap perception Test), tes int eligensi WAIS (Wechsler Adult Intellegence Scale), tes inteligensi Stanford Binet, dan lain-lain.
(b.Tes kelompok (Group test), maksudnya adalah pada suatu waktu tertentu tester menghadapi sekelompok testee, contohnya tes inteligensi  SPM (Standart Progressive Matrices), tes inteligensi APM (Advance Progressive Matrices) tes Krae- pelin, dan lain-lain.
b.   Berdasarkan atas cara menyelesaikannya, dibedakan menjadi;
(a.Tes verbal (verbal test), maksudnya adalah testee di dalam menyelesaikan atau mengerjakan tes tersebut harus menggunakan kata-kata, misalnya memberikan keterangan, mem berikan hasil perhitungan, memberikan lawan kata, mengatakan kekurangan pada suatu gambar, contohnya sub tes informasi pada tes WAIS.
(b.Tes non verbal, pada tes ini atau sering juga disebut performance test. Maksudnya adalah testee tidak harus menggunakan respon berujud bahasa melainkan dengan melakukan sesuatu, contohnya sub tes menyusun balok dan sub tes menyusun gambar pada pada tes WAIS.
c.    Berdasarkan atas caranya menilai tes dibedakan menjadi;
(a.Tes alternative, penilaian pada tes ini berdasar atas benar salah, jadi hanya ada dua alternative benar atau salah.
(b.Tes gradual, pada tes ini penilaian bersifat gradual, jadi ada be berapa tingkatan misalnya diberi nilai 5, 4, 3, 2, 1.
d.   Berdasarkan atas fungsi psikis yang dijadikan sasaran testing, dibedakan menjadi; (a. Tes perhatian
(b.  Tes fantasi
(c.  Tes ingatan
(d. Tes kemauan
e.    Berdasarkan atas tipe tes yang berhubungan dengan isi tes dan waktu yang disediakan, dibedakan menjadi;
(a. Speed test, maksudnya adalah yang diutamakan dalam tes ini yaitu kecepatan dan ketepatan kerja. Pada tes tipe ini wak tu untuk menyelesaikan tes dibatasi, contohnya tes kraepelin, tes cepat dan teliti, tes SPM, tes APM, Tes Kemampuan Dasar (TKD)  dan lain-lain.
(b.Power test, maksudnya adalah tipe tes yang mengutamakan kemampuan bukan kecepatan atau ketepatan. Untuk tes tipe ini waktu mengerjakan tes pada dasarnya tidak dibatasi, contohnya Tes kepribadian (Grafi s, Wartegg, EPPS) dan lain-lain.
f.     Berdasarkan atas materi tesnya yang berhubungan dengan latar belakang teorinya, dibedakan menjadi;
(a.Tes proyektif, tes ini disusun atas dasar penggunaan mekanisme proyeksi. Diharapkan agar di dalam testeeng dengan tes demikian pada testee terjadi mekanisme proyeksi yang semaksimal mungkin, oleh karena itu biasanya materi tes terdiri atas obyek yang belum atau kurang jelas strukturnya, contohnya tes Rorschach, TAT, CAT dan lin-lain.
(b.Tes non proyektif, tes ini sama sekali tidak memp ertimbang kan mekanisme proyeksi itu.
g.   Berdasarkan atas bentuknya, tes dibedakan menjadi;
(a.        Tes benar salah
(b.        Tes pilihan ganda
(c.        Tes isian
(d.       Tes mencari pasangan
(e.        Tes penyempurnaan
(f.         Tes mengatur obyek
(g.        Tes deret angka
(h.       Tes rancangan balok
h.   Berdasarkan atas penciptanya, tes dibedakan menjadi;
(a.        Tes Rorschach
(b.        Binet Simon
(c.        Tes Kraepelin
(d.       Tes Wechsler (WPPSI, WISC, WAIS)
(e.        Tes Raven (SPM, APM, CPM)
        h. Berdasarkan aspek yang diukur, tes dibedakan menjadi;
(a.Tes kecerdasan (tes inteligensi, general intelligence test)
(b.Tes bakat (aptitude test)
(c.Tes kepribadian (personality test)
(d.Tes minat

Klasifikasi tes yang diuraikan di atas secara garis besar dapat diklasifikasikan ke dalam Tes Intelegensi, Tes Bakat, Tes Kepri badian, dan Tes Minat (HIMPSI, 2002)

1.  Tes Intelegensi
    Tes yang mengungkapkan intelegensi untuk mengetahui sejauh mana kemampuan umum seseorang untuk memperkirakan apa- kah suatu pendidikan atau pelatihan tertentu dapat diberikan kepadanya. Nilai tes intelegensi seringkali dikaitkan dengan umur dan menghasilkan IQ untuk mengetahui bagaimana kedudukan relative orang yang bersangkutan dengan kelompok orang sebayanya.
2. Tes Bakat
      Atau sering disebut pula sebagai tes bakat khusus mencoba untuk mengetahui kecenderungan kemampuan khusus pada bidang-bidang tertentu.
3. Tes Kepribadian
    Mencoba untuk mengungkapkan berbagai ciri kepribadian tertentu seperti introversi, penyesuaian sosial dan sebagainya yang terkait dengan kepribadian.
4. Tes Minat
       Tes minat mengungkapkan reaksi seseorang terhadap berbagai situasi yang secara keseluruhan akan mencerminkan minatnya. Minat yang terungkap melalui tes minat ini seringkali menunjuk kan minat yang lebih mewakili daripada minat yang se kedar dinyatakan yang biasanya bukan merupakan minat yang se sungguhnya.

D.Pengertian  Test Inteligensi 

Inteligensi adalah perwujudan dari suatu daya dalam diri manusia, yang mempengaruhi kemampuan seseorang di berbagai bidang. Spearman  membuat suatu rumusan yang dinamai ”general ability” yang berperan dalam menyimpan dan mengikat kembali suatu informasi, menyusun konsep-konsep, menangkap adanya hubungan-hubungan dan membuat kesimpilan, mengolah bahanbahan dan menyusun suatu kombinasi baru dari bahan tersebut.
Vernon (1973) ada tiga arti mengenai inteligensi, pertama inteligensi adalah kapasitas bawaan     yang diterima oleh anak dari orang tuanya melalui gene yang nantinya akan menentukan                perkembangan mentalnya. Kedua, istilah inteligensi mengacu pada pandai, cepat dalam bertindak, bagus dalam penalaran dan pemahaman, serta efi sien dalam aktifi tas mental. Arti ketiga dari inteligensi adalah umur mental atau IQ atau skor dari suatu tes inteligensi.
Sampai saat ini sudah banyak tes inteligensi yang disusun oleh para ahli baik tes intelegensi untuk anak-anak maupun orang dewasa, tes inteligensi yang disajikan secara individual maupun secara kelompok, tes verbal dan tes performansi, dan tes inteligensi untuk orang cacat khusus misalnya tuna rungu dan tuna netra.
Beberapa bentuk tes inteligeni antara lain ;
a.   Tes inteligensi untuk anak-anak (tes Binet, WISC, WPPSI, CPM, CFIT skala 1 & 2, dan TIKI dasar).
b.   Tes inteligensi untuk remaja - dewasa (TIKI menengah, TIKI tinggi, WAIS, SPM, APM, CFIT skala 3).
c.    Tes inteligensi untuk tuna rungu (SON)

Hasil tes inteligensi pada umumnya berupa IQ (Intelligence Quotient), namun ada juga tes inteligensi yang tidak menghasilkan IQ yaitu berupa tingkat/grade (Raven). Istilah IQ pertama sekali dikemukakan pada tahun 1912 oleh William Stern, seorang ahli psikologi berkebangsaan Jerman. Kemudian oleh Lewis Madison Terman istilah tersebut digunakan secara resmi untuk hasil tes inteligensi Stanford Binet Intelligence Scale di Amerika Serikat pada tahun 1916. Perhitungan IQ menurut William Stern menggunakan rasio antara MA dan CA, dengan rumus IQ = (MA/CA) x 100. MA adalah mental age, CA adalah chronological age, 100 adalah angka konstan.
Terman dan Merril mengklasifi kasikan inteligensi berdasarkan standardisasi tes inteligensi Stanford Binet tahun 1937, sebagai berikut :

Klasifi kasi
IQ
Very Superior
140 ke atas
Superior
120 – 139
High Average
110 – 119
Normal or Average
100 – 109
Low Average
80 – 89
Borderline Defective
60 – 79
Mentally Defective
30 – 69



Tes Binet Simon adalah tes inteligensi yang pertama sekali dipublikasikan pada tahun 1905 di Paris- Prancis, untuk mengukur kemampuan mental seseorang. Alfred Binet menggambarkan inteligensi sebagai sesuatu yang fungsional, inteligensi menurut Binet atas tiga komponen yaitu kemampuan untuk mengarahkan pikiran atau tindakan, kemampuan untuk mengubah arah tindakan bila tindakan tersebut telah dilaksanakan dan kemampuan untuk mengkritik diri sendiri. Tes Binet yang digunakan di Indonesia saat ini adalah Stanford Binet Intelligence Scale Form L-M, yaitu revisi ketiga dari Terman dan Merril pada tahun 1960.David Wechsler yang juga merupakan salah seorang perintis pengembangan tes inteligensi mendefinisikan inteligensi sebagai kumpulan atau keseluruhan.
   
Contoh Test Binet
Sekian dari artikel saya, ku menyadari artikel yang diatas banyak kekurangannya karena kesempurnaan hanyalah milik allah s.w.t dan semoga artikel di atas bisa bermanfaat untuk diri saya pribadi dan buat kalian iya . Saya Mengucapkan Terima kasih Wassalamualaikum Wr.Wb. semoga kita di berikan kesehatan oleh allah swt aamiin ya robbal alamin. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan

Pengertian Remaja, Peranan Remaja, dan Tanggung Jawab Remaja

Renungan Untuk Kita Semua